Tampilkan postingan dengan label KAMMI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KAMMI. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Desember 2013

Kader KAMMI se-Kota Medan Harus Evaluasi Besar!

Desember kali ini adalah bulan dengan jadwal terpadat untuk agenda-agenda anak KAMMI baik ditingkat komisariat maupun daerah. Pasalnya, akhir perkuliahan merupakan waktu yang tepat untuk melaksanakan beberapa kegiatan seperti Musyawarah Komisariat ataupun Dauroh Marhalah 1. Belum lagi suplemen yang diberikan oleh beberapa departemen di KAMMI Medan seperti Dauroh Kehumasan (DK) dan Rapat Koordinasi (RaKoorda) Departemen Kebijakan Publik..

Begitu banyaknya agenda yang mungkin membuat kader lelah, bingung, ataupun menjadi ogah saja. Tapi yang namanya kader dakwah apalagi sudah Anggota Biasa II, sudah semestinya lihai meletakkan skala prioritas di dalam dirinya..

Ada beberapa hal yang ingin dikoreksi dari agenda-agenda besar bulan ini..
Pertama, tentang komitmen melaksanakan amanah. Banyaknya agenda di atas wajar saja ketika seorang biasa akan sulit membedakan mana yang prioritas pertama, kedua, dan seterusnya. Namun, label sebagai seorang kader harusnya sudah mampu menuntaskan masalah itu. Amanah-amanah yang diberikan sesungguhnya sudah melalui proses yang panjang ketika akan meletakkan seseorang pada amanah itu. Tinggal pemegang amanah saja yang kemudian memiliki hak penuh untuk memutuskan apa yang akan dilakukan selanjutnya. Bercermin dari Dauroh Marhalah 1 di dua komisariat yang kelimpungan karena instruktur akhwatnya tidak ada yang muncul. Padahal setelah menanyakan kejelasan tentang pengamanahan instruktur di DM1 bersangkutan, Korps Instruktur Daerah KAMMI Medan menyatakan "sudah" mengamanahkan kepada 5 orang di setiap DM. Lalu, dimana letak kesalahannya? Masih ingatkah kita bahwa DM1 itu adalah gerbang awal terbentuknya muslim negarawan baru? Lalu kenapa kita tidak menjalankan amanah dengan baik dan dengan gampang saja meninggalkannya? Ingatlah kembali kawan, sesungguhnya kami yang di bumi ini tidak akan menuntut apa-apa darimu. Bahkan kami mudah saja sebenernya menggantikan dirimu untuk melakukan amanah itu. Tapi ingatlah bahwa pertanggung jawaban sebenar dan seadil-adilnya hanyalah di tangan Allah subhanahu wa ta'ala.. Satu lagi yang buat sedap-sedap ngeri adalah tertundanya pembukaan Dauroh Marhalah 1 di salah satu komisariat karena tidak ada instruktur ikhwan yang bisa menerima penyerahan berkas dari panitia. Terbersit pemikiran untuk menerima langsung berkas oleh instruktur akhwat, tapi mundur kembali karena mengingat beberapa teguran yang pernah dilayangkan kepada seorang akhwat yang dengan PDnya berdiri pada forum ikhwan-akhwat.

Kedua, forum malam tanpa musyrif. Sebenernya penulis sendiri tidak mempunyai hak untuk menjudge yang satu ini. Karena dibeberapa forum malam, penulis juga terjebak pada kondisi ini. Seperti kawanan burung yang harus mengikuti pola terbang yang terbentuk karena meninggalkan rekan terbang sama saja tersesat sendirian. Allahu'alam.. Walau kadang rasanya ingin pergi saja tidak ingin di forum, namun entah hambatan apa yang membuat kaki tidak melangkah. Teringat kembali ketika masih menjadi peserta di beberapa dauroh, musyrif tidak ada itu seperti bencana besar. Tepat pukul 6 sore teng, sebagai akhwat, harus meninggalkan lokasi dauroh ke tempat yang lebih kondusif atau minimal tidak boleh keluar kamar lagi. Kalau keluar pun harus ditemani kakak-kakak instruktur. Saat ini, hal ini jarang sudah terjadi. Bahkan sudah seperti kebiasaan saja karena tuntutan agenda yang padat. Jika tidak dilakukan, maka tidak selesailah agenda tersebut. Mungkin ini menjadi alasan pertama dan mendasar kenapa forum malam tanpa musyrif tetap dilakukan.

Ketiga, ketsiqohan kader menjadi yang direkomendasikan sebagai peserta. Dauroh Kehumasan dan Rakoorda DKP adalah dua agenda besar yang harus menjadi evaluasi besar terhadap kader yang sebenarnya sangat disesalkan oleh penulis. Dauroh Kehumasan yang hampir saja dibatalkan karena peserta tidak mencukupi pemenuhan jumlah minimal pelaksanaan dauroh (15 orang) membuat instruktur betul-betul berusaha keras menarik kembali kader-kader yang bisa ditarik walaupun sebelumnya ia bukanlah kader yang direkomendasikan. Lalu, agenda Rakoorda DKP yang hanya dihadiri 6 komisariat dari 11 komisariat yang ada. Sebagai orang yang terjun lansung ke komisariat, saya sendiri bingung akan mulai darimana mengevaluasi ini. #KokBisa! Sejatinya agenda-agenda itu bertujuan menghimpun kembali kekuatan persatuan kita antar KAMMI komisariat dan KAMMI daerah. Menyamakan gerak langkah demi massifnya gerak kita. Lalu apa yang terjadi? Perjalanan setiap dari komisariat pun tidak selalu bisa disamakan langkahnya. Bukan karena kondisi komisariat, namun kondisi kader-kadernya yang tidak menghadiri acara-acara seperti ini.

Semoga sedikit tulisan ini bisa menjadi motivasi kita untuk terus memperbaiki langkah kita. Amal jama'i bukan hanya dalam komisariat saja atau daerah saja. Dari komisariat sampai ke pusat merupakan satu jama'ah besar yang harusnya amal jama'i menjadi salah satu pegangan kita untuk bisa melangkah bersama.

Allahu'alam bisawwab..
Semoga kita selalu dekat dalam pengampunan oleh-Nya..

Wassalam...

Minggu, 14 April 2013

KAMMI UMA Menginspirasi!!

Assalamu'alaykum warohmatullah..


Alhamdulillah atas segala nikmat Allah karena sampai detik ini aku masih bisa menulis dan kalian masih bisa baca tulisan ini... Shalawat beriring salam juga aku hadiahkan kepada Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam besereta keluarga dan sahabat beliau..

Amma ba'du..
Alhamdulillah hari ini (Minggu, 14 April 2013), aku jadi juga mengikuti Training Motivasi yang diadakan oleh PK KAMMI UMA. Acaranya terbilang sukses dengan dihadiri lebih dari 60 peserta yang luaarrrr biasaa semangat! Belum lagi semangat pembicaranya sendiri, Pak Wahyudi CI, yang sukses sekali menghipnotis peserta dalam segala rentetan panjang penjelasannya.. Alhamdulillah..

Hari ini aku dikejutkan juga dengan semangatnya panitia acara yang berhasil menjadikan acara ini begitu tersusun rapi dan terbungkus cantik. Kalau diibaratkan coklat, maka ini adalah tobleron dengan bungkus terunik dalam sejarah.. :D #nahlho


Nah, hal yang menginspirasi aku hari ini adalah ketika sebuah acara besar hari ini hanya di konsep oleh 15 orang hebat dengan ibadah yang pol-polan dan usaha yang jatuh bangun tentunya. Betapa tidak, kegiatan besar yang selama ini kita jalani (menurut pengalaman sendiri) adalah sebuah acara dengan kepanitian besar, dengan banyak orang disana sini. Itu juga sering menimbulkan kendala dan perdebatan hebat dalam kepanitiaan.


Hari ini aku menyaksikan sendiri bahwa 15 orang hebat di PK KAMMU UMA itu membawa berjuta-juta semangat didalamnya. Dengan kegigihan seorang ketua umum sebut saja namanya Era Ana Pasti, juga seorang ketua panitia yaitu M. Ibnu yang dengan piawainya menggerakkan semua panitia untuk bekerja maksimal. Tentu saja dengan kesadaran besar para personilnya juga yang sangat mendukung kegiatan itu untuk berlangsung sesempurna mungkin.


Dalam benak, timbul kepercayaan diri sendiri bahwa suatu saat KAMMI UMA akan menjadi sebuah komisariat besar dengan izin Allah Subhanahu wa Ta'ala. Bagaimana tidak! Aku sendiri sudah membuktikan bahwa pertolongan Allah itu amat dekat buat mereka. Setiap perjalanan mereka yang diiringi peluh dan segala kerja keras memang haruslah dibalas indah pada waktunya..




Bolehlah saat ini aku tidak melihat greget KAMMI UMA disana, namun  ku pastikan InsyaAllah KAMMI UMA akan bisa menjadi pioner dakwah di UMA yang akan mengkampanyekan jihad di atas panji Allah. Lihat saja semangat kadernya yang begitu luar biasa tadi. Dan lihat saja rangkulan Allah yang amat erat buat mereka.


Ga percaya??

Saksikan! ^__^

SEMANGAT selalu buat kalian!
SEMANGAT hanya minta pertolongan kepada-Nya!
Dan BERSIAPLAH menjadi yang terbesar!
Allahu Akbar!

Allahu'alam bissawab..
Wassalam..



Jumat, 12 April 2013

KAMMI dan Politik

Assalamu'alaykum warohmatullah..

Syukur atas segala nikmat Allah Subhanahu wa Ta'ala dan shalawat beriring salam untuk Rasulullah Salallahu 'Alaihi Wassalam beserta keluarga dan sahabat beliau..


Tulisan ini terinspirasi dari pertemuan semalam (Jum'at, 11 April 2013) di kampus IAIN SU bersama kader-kader akhwat IAIN Tarbiyah juga KAMMI Unimed yang baru selesai mengadakan kajian politik terkait RUU ORMAS yang saat ini sangat hangat (bahkan hampir basi) dibicarakan di kalangan aktivis mahasiswa. Sayangnya, dalam pertemuan itu, hanya sedikit pembahasan yang terjadi dikarenakan kader KAMMI sendiri tidak dan/atau belum membaca dan mengikuti lebih lanjut permasalahan RUU ORMAS tersebut (dari sumber terpercaya).

Sejenak terlintas fikiran bahwa ada penurunan kapasitas perpolitikan kader KAMMI belakangan ini.
Seperti yang kita ketahui dalam kredo gerakan, KAMMI adalah Gerakan Intelektual Profetik dan Gerakan Politik Extraparlementer. Hubungan keduanya dikaitkan dengan bagaimana kader-kader KAMMI melek akan politik dan dapat menyalurkan ide-idenya demi pancapaian solusi atas permasalahan yang timbul dalam masyarakat, bangsa, dan negara.

Dalam pemenuhan kedua hal di atas, sangat wajar ketika Kastrat/DKP KAMMI disetiap komisariat maupun daerah bahkan sampai ke pusat memiliki forum kajian politik guna mengungkap semua hal-hal yang sedang terjadi. Bahkan akan terasa aneh ketika KAMMI dalam tubuhnya tidak memiliki forum politik tersebut dikarenakan KAMMI sebagai organisasi kemahasiswaan yang sangat lekat dengan unsur politiknya.

Hal yang sangat disayangkan adalah pergeseran tujuan dari forum kajian politik itu sendiri. Kenyataannya adalah bahwa forum kajian tersebut yang harusnya dapat menciptakan solusi untuk permasalahan-permasalahan yang timbul begeser menjadi sebuah forum penginformasian permasalahan yang sedang terjadi. Sangat jelas bahwa hal ini sangat jauh dari wacana muslim negarawan yang dibangun. Muslim negarawan yang harusnya menjadi pelopor pergerakan sekarang telah berada dibarisan tengah bahkan hampir berada pada urutan terbelakang.

Tidak seharusnya forum kajian politik yang diadakan oleh KAMMI menjadi ajang penginformasian. Pasalnya, setiap permasalahan yang timbul dan booming saat ini seharusnyalah sudah menjadi konsumsi pribadi bagi setiap kadernya. Sehingga ketika diadakan forum tersebut, maka atmosfer dalam forum akan hidup dan melahirkan ide-ide aktif dan kreatif guna memecahkan permasalahan tersebut.

Namun, pergeseran yang terjadi saat ini menimbulkan banyak pertanyaan. Apakah kader KAMMI tidak lagi peduli dengan masalah politik yang terjadi? Atau keengganan kader membahas perpolitikan karena dianggap tidak ada pengaruh bagi keberlangsungannya? Ataukah kecuekan kader karena fokus terhadap masalah internal dan pengkaderan yang merenggut kepiawaian politik kader? Dan banyak lagi pertanyaan yang terbersit sesuai dengan fenomena yang terjadi dilingkungan geraknya.

Dari kekeliruan yang terjadi seperti yang diungkapkan di atas, maka seharusnya mulai sekarang kader KAMMI harus lebih perhatian terhadap perpolitikan yang sedang terjadi. Harus lebih aktif dan menyukai membaca artikel-artikel maupun sumber lain demi terbukanya luas wawasan perpolitikan kader. Diharapkan forum politik yang diadakan berikutnya sudah mencapai target seharusnya yaitu menciptakan solusi.

SEMANGAT berpolitik!
SEMANGAT mengkaji politik!
SEMANGAT tawazun!

Allahu'alam.
Wassalam..

Jumat, 28 Desember 2012

KAMMI Daerah Medan -- Dari Humas ke Binsat!!

Hmm..mulai dari mana yaa ni tulisan??
Mulai dari salam aja yee...
Assalamu'alaykum para pembaca... #kaloadayangbaca


Masih tetap bersyukur dong yaa sama Allah SWT dengan segaaalaaa kenikmatan yang telah dicurahkan kepada kita. Juga tak lupa shalawat dan salam beriring cinta untuk Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam beserta keluarga dan sahabat-sahabat beliau..

__Menjadi Pengurus Daerah__

Waah..ternyata umurku sudah menua..hihii
Bukan lho...menjadi pengurus daerah itu bukan karena tua atau tidaknya yaa..

Oh yaa, setelah dijalani, menjadi pengurus daerah itu asyiiik juga lhoo. Emang siih beda sama suasana komsat. Tapi mereka punya esensi tersendiri yang harus kita pahami.

Jawaban dari kerinduanku atas komsat sudah kutemukan pada diriku sendiri. Intinya, apapun yang mau aku lakuin tetap pegang teguh prinsip yang aku percayai. Maka semua kegelisahan dalam diri akan sirna seiring berjalannya waktu. #emangpunyakaki??


Menjadi seorang pengurus sebuah organisasi itu ga sulit kok. Asal kita punya cinta yang menggelora di dalam hati, yang menjadikan semua amanah bukan terasa sebagai amanah apalagi beban. Jika ada cinta, maka semua yang kita lakuin emang terasa murni dari ide dan fikiran kita sebagai wujud pengejawantahan cinta kita atas dakwah. Maka mulai sekarang, hadirkan cita kita terhadap KAMMI khususnya agar apapun yang kita lakukan terasa nikmat.

__Dari Humas ke Binsat__

Pertama kali aku terlibat dalam kepengurusan daerah, aku diletakkan di Humas. Yap...Hubungan masyarakat atau sering juga dibilang public relation. Kalo melihat pribadiku siih, aku emang cocoknya di humas, tapi yang untuk direct selling nya aja. Aku kan hobi ngoceh kesana kemari gitu. #haha. Soalnya kalo masalah jurnalistik dan desain mendisain aku kurang mahir. #ets

Nah, di humas aku pastinya bertemu orang-orang luar biasa. Baru kali ini aku di syuro (musyawarah) diam terpaku dan terbengong karena tidak tahu apa yang mau aku sampaikan. Itulah akibat:

1. Emang pertama kali aku masih minder berada disana. Dengan semua para senior yang aku tahu ilmunya selangit. Melihat saja aku mau takut, apalagi mau berbicara.
2. Ide-ide dahsyat mereka yang buat aku ga berdaya. #ajiiib.dahsyat
#hehe


Dua bulan ada di humas, aku pindah lagi ke binsat. #wow. Akunya loncat-loncat di KAMMDA. haha
Pertama rasanya mau nolak gitu karena aku juga baru nikmati peranku di humas, baru mulai-mulai berani bicara di syuro karena agak dipaksa, juga baru kenal dengan semua para humas di 11 komisariat dengan tingkah yang aneh-aneh, eeeh aku harus ganti amunisi dan personil lagi..

Tapi, saat dewasanya aku hadir karena cinta tadi siih, aku jadi dengan lapang dada dan dengan nada tegas menerima itu semua karena Allah. Jadilah aku di binsat. #eng,ing,eeng

Binsat itu kan bimbingan komisariat yaa, kalo gamblangnya dibilang kita-kita yang di binsat bakal ngurusin komisariat. (Walaupun sebenernya ga gitu-gitu amat. Semua permasalahan departemen komsat bisa kita bagi ke departemen yang di KAMMDA. Jadi istilahnya binsat itu fasilitator yang mengawasi.)
Menantang ga tuh?? Ohh jelaas...aku tertantang sekalii... Mikirnya gimana cara aku memahami semua departemen dan bisa mengambil solusi cepat, tepat, dan cerdas saat mereka bertanya. Pastinya aku ga boleh kelihatan bego dan tidak berdaya dihadapan mereka. Jadilah aku malam itu searching-searching tentang semuuuuuaaaaa departemen, baca-baca artikel dari KAMMI di daerah lain, dan semua deh pokoknya.

Sampai esoknya disebuah pertemuan upgrading binsat, makin terbelalaklah aku melihat begitu banyak file yang harus aku pelajari dan pahami. JUKLAK, JUKNIS, hasil MUKTAMAR, BP3O, dan masih banyak lagi yang lain. :) Tapi tetap saja tidak mengurungkan semangatku.
Ya...Aku dengan 1000 semangat dalam diriku!!
Pokoknya aku harus bisa dan aku terus berdoa biar ga cuma dua bulan lagi..hehehe

Gantung dan berantakan yaa ceritanya..
Tapi aku beneran udah mentok..
haha

_Selamat Membaca_ #tuing.tuing^^

Wassalam..


Senin, 27 Agustus 2012

Rindu Komsat


27 Agustus 2012

Bismillahirrohmanirrohim...

Segala puji hanya milik Allah yang telah menempatkan aku pada tempat yang sebaik-baiknya di bumi dan selalu berharap mendapatkan Syurga-Nya di akhirat kelak. Aamiin..
Shalawat beriring salam juga tak lupa aku panjatkan buat Rasulullah, keluarga dan sahabat-sahabatny


Semoga catatan ini bukan menjadi penghenti langkahku. Bukan sebagai curahan kelemahan dan keluh kesahku. Bukan sebagai alat penyindir saudara-saudaraku, dan bukan pula sebagai bentuk kekecewaanku. Hanya saja, aku ingin menumpahkan semua isi hati dan melukiskannya indah di catatan ini.

Kira-kira 4 bulan berada di kepengurusan daerah, belum juga bisa ku satu padukan gerak langkahku dengannya, yaa wajiha yang saat ini aku menghuninya. Aku selalu rindu dan semakin rindu saja dengan komsat ketika prosesku disana berdinamika. Aku rindu komsat tempat aku ditempah menjadi seperti sekarang ini. Di tempah tuk jadi seorang akhwat yang memiliki ketulusan dan komitmen dalam jihadnya (yaa..walaupun terakdang masiih bandel dan melanggar).


Pertama kali masuk di kedaerahan dan diletakkan pada posisi yang aku menggemarinya à Humas (aku suka memperluas jaringan dan komunikasiku). Kesan pertamaku (kalo orang Inggris bilangnya impression) saat diterjunkan kesana, aku tertarik dan tertantang. Bagaimana tidak?? Aku berada dalam sebuah tim yang para ikhwannya itu mantan ketua komisariat, dan akhwatnya itu adalah orang-orang luar biasa yang ku kenal dengan baik.


Perasaan takutku pun seketika muncul. Takut akan ditertawakan di syuro saat aku memaparkan ide bodohku yang kekanak-kanakan. Aku juga takut tidak dapat menyamakan atmosfer dengan keterbatasan ilmu yang ku miliki, sedang mereka punya ilmu yang menjulang tinggi. Tapi semua itu harus ku tepis. Ku ingat kata-kata rekanku bahwa “Jangan pernah takut sebelum mencoba.” Yap...aku harus bisa menjadi lebih baik dan harus berusaha keras buat menjadi orang yang berguna disana.


Syuro demi syuro, pemikiran demi pemikiran, dan interaksi demi interaksi yang terjadi mengubah ketertarikanku. Tapi bukan dari timku, itu dari tim lain. Kemudian lama-kelamaan timku juga tidak jauh berbeda. “Aku ingin tetap di komsat saja!” benakku kesal.


Mengapa tidak? Aku begitu rindu suasana syuro yang dibilang orang kaku itu. Aku rindu saat hanya hal-hal yang menyangkut dakwahku yang dibicarakan didalamnya. Bukan masalah dress code ataupun gross jilbab. Tapi apa?? Syuroku kulalui dengan mendengarkan partnerku tertawa dan bercanda dan kadang akupun tertawa dengan kekonyolan itu (astaghfirullah.. T.T). Apa aku yang terlalu muda dan dini sehingga masih menginginkan suasana syuroku di komsat? Entahlah...


Belum lagi ku lihat interaksi rekan-rekanku yang, waah...seperti aku dengan orang ammah saja. Tertawa sesukaku, nyablak semauku, menggoda seenakku. Lagi dan lagi.. apa aku yang terlalu polos dan ga paham dengan situasi dan ranahku sekarang? Entahlah...


Aku juga rindu seorang pemimpin yang selalu bertanya kondisiku saat di komsat. Bagaimana program DKK? Ada kendala? Lalu disini, aku tidak menemukannya. Yaa..memang aku ini hanya staff disana. Tapi aku berada dalam sebuah divisi dalam naungan seorang koordinator. Bahkan partner di divisiku saja tidak mempertanyakannya. Ga muluk kok. Aku juga tidak berharap ditanyai oleh seorang ketua umum. Terkejutnya, aku diatur oleh koordinator tim lain untuk melaksanakan satu program humasku. Lalu, kenapa ini? Hmm..atau memang begitukah jadi kader daerah? Harus mandiri tanpa banyak dikontrol oleh koordinatornya (patroli = bahasaku)? Entahlah..


Aku juga rindu dengan kajian-kajian komsat. Setiap dua minggu sekali aku pasti dapat pesan untuk kajian tematik atau suplemen lainnya. 4 bulan dikedaerahan tanpa sebuah motivasi tuk perkuat ketulusan dan komitmenku? Tanya kenapa? Entahlah...


Dan aku sangaaat rindu dengan seorang rekan yang bisa aku ajak ngobrol untuk saling bertukar ide dan pandangan masing-masing. Mana? Aku tidak menemukannya. Bahkan aku sampai sekarang masih bercerita dengan rekanku di komsat. How?


Oh yaa.. aku juga tidak suka dengan panggilan “kakak” yang gencar dilontarkan olek junior-junior ikhwan di komsat setelah tau bahwa aku uda di kedaerahan. Katanya tradisi. HAH?? TRADISI? Entahlah...


Dahulu kadri komsat dengan susah payah menempahku agar menjadi akhwat yang sebisa mungkin harus menahan nafsuku untuk bercanda dan tertawa. Kalian tau, tidak semudah itu memudarkannya. Bahkan sampai sekarang aku masih jadi orang yang penuh canda dan tawa. Kadri juga gemar mentaujihku tentang interaksi ikhwan akhwat. Kadri juga selalu ingatkan bagaimana kita di dalam sebuah syuro. Bahkan aku masih ingat wajah kecewa kakak itu dihadapanku karena aku melanggarnya. #menyayat.hatiku


Tapi, kenapa sampai dijenjang ini, itu semua seakan dilanggar? Bahkan seakan tidak ada? Buat apa dahulu para kadri dengan susah payah menerapkan itu dalam diriku? Toh, sekarang nampaknya aku sudah bisa leluasa melakukannya. Atau..apakah aku harus belajar dewasa sendiri tanpa peneguran lagi? Harus mengerti sendiri bagaimana menempatkan diri? Dimana letak saling mengingatkan dalam kebaikan?? Apakah kader kedaerahan itu juga harus belajar sendiri untuk meningkatkan wawasannya? Tidak akan ada lagikah panduan dari kadriku sekarang? Apa sekarang semua harus tergantung kader itu? Tergantung aku? Yaa.. tentu saja. Semua tergantung aku.


Aku..aku..jika hanya aku, bagaimana dengan rekanku? Interaksi yang mereka lakukan dengan segera menggangguku. Apa yang salah? Apa yang harus ku singkirkan? Aku? Mataku kah? Atau telingaku?


Berada di kedaerahan, aku sadar sendiri akan menjadi contoh buat komisariat. Aku tidak mau menjadi contoh buruk buat mereka. Mereka yang senang dan bangga dengan amanahku ini. Menyambutku dengan beribu ucapan barakallah saat pertama ku diamanahkan disana.. Bagaimana mungkin akan ku sayat hati mereka dengan ini semua? Bagaimana aku akan bercerita ketika mereka menanyakan bagaimana di kedaerahan? Apa yang akan aku katakan jika hanya kadri yang sukses dengan hijabnya? Letakkan saja aku di kadri semata untuk menjaga hijabku. #picik sekali


Rindu KomsatOhh... Suci... terus saja salahkan keadaan. Terus saja menyalahkan orang. Apa kau tidak punya salah?

Yaa... aku punya. ‘AKU TERLIBAT DI DALAMNYA.’ T_T #hiks.hiks